|
|
Fenomena Tindihan
Sleep Paralysis (Tidur Lumpuh)
Secara ilmiah, fenomena ini dikenal dengan istilah “Isolated
Sleep Paralysis” (ISP). Hampir setiap orang pernah mengalaminya, setidaknya
sekali atau dua kali dalam hidupnya. Sleep paralysis bisa terjadi pada lelaki
atau perempuan. Usia rata-rata orang pertama kali mengalami gangguan tidur ini
adalah 14-17 tahun.
Seorang peneliti ISP, Al Cheyne dari University of
N1 adalah tahap tidur paling ringan (masih setengah sadar).
N2 merupakan tahap tidur yang lebih dalam, sedangkan N3 paling dalam. R adalah
REM, pada tahap ini mimpi terjadi. Urutan tidur biasanya dimulai dari
N1-N2-N3-kembali ke N2-R-kembali ke N2-N3-kembali ke N2-R-kembali ke N2-N3 dan
seterusnya. Gelombang otak mimpi mempunyai frekuensi mirip gelombang otak sadar.
Ini menjelaskan kenapa orang bisa merasa berada dalam alam kesadaran lain
ketika bermimpi.
Sleep paralysis paling sering terjadi pada orang yang kurang
tidur, kelelahan, stres, dan cemas berlebihan. Saat tubuh terlalu lelah atau
kurang tidur, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya.
Dari keadaan sadar (saat hendak tidur) ke tahap tidur paling ringan, lalu
langsung melompat ke mimpi (REM). Ketika otak mendadak terbangun dari tahap REM
tapi tubuh belum, di sinilah sleep paralysis terjadi.
Kita merasa sadar, tapi tubuh tak bisa bergerak. Ditambah
lagi adanya halusinasi muncul sosok lain yang sebenarnya merupakan ciri khas
dari mimpi. Rasa sesak dan seperti dicekik muncul karena dalam tahap REM
terjadi ketidaksinkronan antara lalu lintas udara dalam sistem pernafasan
dengan tingkat kesadaran seseorang.
Sleep paralysis juga bisa disebabkan stres dan beban
perasaan yang terbawa ke dalam mimpi. Rasa takut yang sering divisualisasikan
dengan keberadaan mahluk lain, juga diduga karena sedang berusaha
mengindentifikasikan rasa takut dan teror yang disimpannya dalam kehidupan
nyata.
Mereka yang sering mengalami tekanan psikis dan fisik akan
lebih banyak mengalami sleep paralysis. Kondisi geologis dan lingkungan kerja
juga dapat mempengaruhi. Misalnya mereka yang bekerja dalam shift sehingga
kekurangan tidur atau memiliki pola tidur yang tidak teratur. Beberapa
penelitian bahkan menemukan, perasaan positif yang sangat kuat, seperti jatuh
cinta atau setelah melakukan hubungan seks, dapat pula menyebabkan sleep
paralysis.
Al Cheyne menemukan bahwa sleep paralysis sering terjadi
pada orang yang tidur dengan posisi terlentang, wajah menghadap ke atas. Sleep
paralysis bisa muncul pada penderita sleep apnea (mendengkur) karena selalu
berada dalam kondisi kurang tidur akibat napas yang terganggu.
Saat ini penelitian juga diarahkan pada pengaruh keadaan
geomagnetik dan/atau keadaan geologis terhadap fenomena sleep paralysis. Mitos Sleep Paralysis di Beberapa Negara
Masyarakat Jawa Kuno mempercayai bahwa “Tindihan” disebabkan
oleh naiknya roh-roh halus dari tempat penyimpanan air di bawah tanah ke bawah
tempat tidur seseorang.
Orang-orang Spanyol menyebutnya “pesadilla” dengan
penjelasan serupa dengan “Tindihan”.
Di budaya Islandia, disebut “mara”. Kata kuno
Di budaya Hungaria, disebut “lidercnyomas” dan dikaitkan
dengan kata supranatural boszorkany (penyihir). Boszorkany sendiri berarti
menekan, sehingga kejadian ini diterjemahkan sebagai tekanan yang dilakukan
makhluk halus pada seseorang di saat tidur.
Di budaya
Di budaya Turki, disebut “karabasan”, dipercaya sebagai
makhluk yang menyerang orang di kala tidur, menekan dada orang tersebut dan
mengambil napasnya.
Di budaya Afro-Amerika, gangguan tidur ini disebut “the
devil riding your back” atau hantu yang sedang menaiki bahu seseorang.
Di budaya Meksiko, disebut “se me subio el muerto” dan
dipercaya sebagai kejadian adanya arwah orang meninggal yang menempel pada
seseorang.
Di budaya Kamboja, Laos dan Thailand, disebut “pee umm”,
yaitu seseorang tidur dan bermimpi makhluk halus memegangi atau menahan tubuh
orang itu untuk tinggal di alam mereka.
Di budaya Vietnam, disebut “ma de” yang artinya dikuasai
setan. Banyak penduduk Vietnam percaya gangguan ini terjadi karena makhluk
halus merasuki tubuh seseorang.
Di budaya China, disebut “gui ya shen” alias gangguan hantu
yang menekan tubuh seseorang.
Di budaya New Guinea, fenomena ini disebut “suk ninmyo”. Ini
adalah pohon keramat yang hidup dari roh manusia. Pohon keramat ini akan
memakan roh manusia di malam hari agar tidak menggangu manusia di siang hari.
Namun, seringkali orang yang rohnya sedang disantap pohon ini terbangun dan
terjadilah sleep paralysis.
Di budaya Jepang, disebut “kanashibari”, yang secara
literatur diartikan mengikat sehingga diartikan seseorang diikat oleh makhluk
halus. Peneliti masih berusaha menemukan kaitan letak geologis Jepang di
kawasan pasifik dengan fenomena ini. Pencegahan dan Cara Mengatasi
Sleep paralysis patut diwaspadai karena bisa merupakan
gejala penyakit, seperti narcolepsy (serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda
mengantuk), depresi, atau bahkan schizophrenia. Sleep paralysis kemungkinan
ditimbulkan juga oleh aliran darah yang tersumbat sehingga otak dan tubuh tidak
lancar terhubung. Akibatnya ketika otak terbangun namun tubuh tidak dapat
bergerak karena ada bagian otak yang masih memerintahkan bahwa tubuh sedang
tidur. Penyumbatan aliran darah tersebut bisa berbahaya jika dibiarkan terus
menerus.
Belum lagi dampak psikologisnya. Orang-orang yang mengalami
sleep paralysis, setelah terbangun biasanya trauma dan tidak berani tidur
karena takut kesadaran akan hilang dan kejadian itu berulang lagi. Karena
itulah sleep paralysis harus dicegah dan diatasi.
1. Hindari Stres
Stres diduga penyebab terbesar sleep paralysis. Mulailah
hidup sehat secara fisik maupun psikis. Jangan merokok, minum alkohol/kafein,
dan makan terlalu banyak. Cukupi kebutuhan tidur dan istirahat.
Tenangkan pikiran sebelum tidur. Kunci pintu, jendela, dan
padamkan api sebelum tidur. Rasulullah saw bersabda: “Padamkan api sebelum
tidur, tutup pintu, bejana, makanan dan minuman” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hindari tidur dengan atap terbuka. “Barangsiapa tidur malam pada rumah yang tak
ada atap penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya” (HR. Bukhari dalam Adab Al
Mufrad). Jangan lupa membersihkan ranjang. “Jika kalian akan tidur, maka
kibaskan kain tempat tidurnya terlebih dulu, karena ia tidak tahu apa yang ada
di atasnya …” dalam riwayat lain, “tiga kali” (HR. Bukhari dan Muslim).
Wudhu sebelum tidur sangat membantu menyegarkan tubuh dan
pikiran. Jeda waktu saat berbaring menuju terlelap dapat diisi dengan muhasabah
(evaluasi diri), membaca doa, zikir, ayat Kursi, dua ayat terakhir Al Baqarah,
Surah Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas. Jika bangun mendadak maka bisa berdoa:
“A’udzu bikalimatillahit tammati min ghodobihi wa syarro i’baadihi wamin
hamazaatisy syayaatiin wa ayyahdurun” (HR. Abu Dawud, dihasankan Al Albani).
Jika mimpi buruk maka meludahlah ke kiri tiga kali, baca ta’awudz dan jangan
ceritakan pada orang lain. Jika mimpi baik maka ceritakan pada saudara/sahabat
dekat. Jangan lupa berdoa dan bersyukur saat bangun tidur.
2. Pola Tidur
Buat pola tidur menjadi lebih teratur. Usahakan tidur di
waktu awal pada jam yang sama setiap malam, sekitar pukul 8 atau 9 sesudah
isya. Aisyah ra: “Rasulullah tidur pada awal malam dan bangun di penghujung
malam lalu sholat” (HR. Bukhari dan Muslim).
Posisi tidur terlentang menjadi salah satu penyebab sleep
paralysis. Karena itu berbaring miring dapat mengurangi resiko tersebut. Bara’
bin ‘Azib meriwayatkan, Nabi saw bersabda: “Jika kamu akan tidur, berwudhulah
seperti akan sholat, kemudian berbaringlah dengan miring sebelah kanan …”.
Hindari pula tidur tengkurap (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Al Albani).
3. Membuat Gerakan Kecil
Jika mengalami sleep paralysis, beberapa orang menyarankan
untuk membuat gerakan mata dengan cepat, agar dapat keluar dari situasi
tersebut. Bisa juga mencoba dengan menggerakkan ujung kaki, ujung tangan atau
kepala sekencang-kencangnya hingga seluruh tubuh bisa digerakkan kembali. Cara
di atas ditambah dengan bernafas sedalam mungkin, tarik napas sedalam mungkin
dan keluarkan secara teratur. Begitu anggota tubuh mulai dapat bergerak maka
segera bangun dan tenangkan diri.
4. Membuat Gerakan Mental
Kondisi sleep paralysis sering membuat panik dan ketakutan
sehingga dapat memunculkan alam bawah sadar tentang ketakutan kita sendiri
sehingga terkadang terbayang adanya makhluk halus.
Mulut kelu dan susah bergerak ketika sleep paralysis
bukanlah pergerakan fisik yang sebenarnya, melainkan gerakan mental. Para ahli
menganjurkan untuk terus berusaha “melawan” dan menggerakkan anggota tubuh
melalui kekuatan pikiran.
Karena itu tetaplah tenang dan berpikir positif. Sikap yang
tenang akan meminimalkan munculnya ketakutan dan bayangan-bayangan yang buruk.
Lakukan gerakan-gerakan kecil seperti yang disampaikan sebelumnya dengan
ditopang pergerakan mental. Gerakan mental ini menjadi efektif dengan lantunan
zikir yang teratur.
5. Pengobatan Medis
Jika terlalu sering mengalami sleep paralysis, maka selain
cara-cara di atas, evaluasi diri pun harus dilakukan. Buat catatan mengenai
pola tidur selama beberapa pekan dan susun daftar masalah-masalah yang menyita
pikiran. Ini membantu untuk mengetahui faktor pemicu sleep paralysis, sehingga
gangguan tidur tersebut dapat diatasi dengan menghindari faktor pemicunya.
Jika sleep paralysis disertai gejala lain, ada baiknya
segera ke dokter ahli tidur atau laboratorium tidur. Catatan yang sudah dibuat
akan membantu dokter mengetahui kapan sleep paralysis dimulai dan sudah
berlangsung berapa lama, juga jenis obat yang pernah atau sedang digunakan.
Hindari konsumsi obat penenang untuk tidur. Ketenangan mental dan pikiran merupakan faktor utama mengatasi sleep paralysis. Hilangkan rasa was-was, takut dan ketergantungan terhadap makhluk, khusyukkan hati melalui ibadah dan zikir, serta perkuat akidah dengan rutin mengikuti kajian yang membersihkan hati dan mengisi ilmu. Dirangkum dari sini
|
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|

